Cafe Djendelo: Sebuah sajak Untuk Elang Punah dan Donny

June 13th, 2007 by djendelo

Setelah Taman Eden, di remang cafe itu
Kutemukan badai kenangan
juga wajah ibu,
Sesabit bulan bak perahu karam,
dan ampas kopi yang menghitam

"Peri kecilku mati di sini….."

Memang, bahkan jika matahari tak lagi
punya janji
Di cafe itu, setelah Taman Eden,
airmataku tumpah
menjadi manik-manik
di sekeliling jasad
yang meninggalkan kacamatanya
di sebalik sajak-sajak malam
pada setiap tulisan
yang datang dan menghujam
di lubuk ingatan

"Separuh impianku setiap malam
tertinggal di sana, ketika Seorang
pelayan, meminjam wajah malaikat,
menuang anggur bapakku
tanpa pesan kenabian…."

Aku lari dan tak sempat bergumam
pulang pada ranjang
menghirup kembali amis tubuh perawan

Di cafe itu, setelah taman Eden, sajakku
meraung mesti sungkan
mencari nyawa para penyair
di ladang-ladang gersang

Sebuah sajak
tentang danau airmata dan kembang sepatu
hadiah peri kecil berkacamata itu kini sunyi
menungguku kembali: di cafe itu

Yogyakarta, Tiada hujan di Bulan Juni
Dari daratan sunyi,
Dwicipta

close
document.write(getScriptTag(1));null
document.write(getScriptTag(2));null
document.write(getScriptTag(3));null
document.write(getScriptTag(4));null

// determine when the dom is ready and call our “onload” functions
attachOnDomReadyHandler(function () {
moveAd(1);
moveAd(2);
moveAd(3);
moveAd(4);
onPageLoad();
});

if (document.getElementsByTagName && !window.ParseCtl)
{
var ParseCtl =
{
onparse : function () {
for(var i=0;i<funcArr.length;i++) {
funcArr[i]();
}
},
complete : false,
timer : 0,
callOnParse : function ()
{
if (document.getElementsByTagName(”body”).length == 0 || ParseCtl.complete) return;
if (document.readyState && document.readyState < 2) return;
clearInterval(ParseCtl.timer);
ParseCtl.complete = true;
ParseCtl.onparse();
}
};
if (document.readyState) {
ParseCtl.timer = setInterval(ParseCtl.callOnParse, 100); // for safari
document.onreadystatechange = ParseCtl.callOnParse;
}
else document.addEventListener(”DOMContentLoaded”, ParseCtl.callOnParse, null);
}

if (navigator.userAgent.indexOf(”MSIE”)!=-1)
document.write(”);Setelah Taman Eden, di remang cafe itu
Kutemukan badai kenangan
juga wajah ibu,
Sesabit bulan bak perahu karam,
dan ampas kopi yang menghitam

"Peri kecilku mati di sini….."

Memang, bahkan jika matahari tak lagi
punya janji
Di cafe itu, setelah Taman Eden,
airmataku tumpah
menjadi manik-manik
di sekeliling jasad
yang meninggalkan kacamatanya
di sebalik sajak-sajak malam
pada setiap tulisan
yang datang dan menghujam
di lubuk ingatan

"Separuh impianku setiap malam
tertinggal di sana, ketika Seorang
pelayan, meminjam wajah malaikat,
menuang anggur bapakku
tanpa pesan kenabian…."

Aku lari dan tak sempat bergumam
pulang pada ranjang
menghirup kembali amis tubuh perawan

Di cafe itu, setelah taman Eden, sajakku
meraung mesti sungkan
mencari nyawa para penyair
di ladang-ladang gersang

Sebuah sajak
tentang danau airmata dan kembang sepatu
hadiah peri kecil berkacamata itu kini sunyi
menungguku kembali: di cafe itu

Yogyakarta, Tiada hujan di Bulan Juni
Dari daratan sunyi,
Dwicipta

DAFTAR MENOE

April 11th, 2007 by djendelo

Daftar Menoe

Tjoklat Panas
Baginda Maling, Bedebah di Balik Djoebah Mewah, Manoesia Tanpa Tjinta, Kembalikan Djalan

Solokoe, Tongkat Penggeboek Senajan

Tjoklat Dingin
Diponegoro Djaja Selaloe, Soeltan Agoeng Gagah, Iboe Kartini Poedjaankoe, Tjoet Njak Dien

Tanggoeh

Kopi Panas
Koeminoem Air Kata-Kata, Relakan Akoe Drop-Out Boenda, Habis Ngelap Terbitlah Peloeh,

Boeroeng-Boeroeng Manjar, Tjintakoe Dioedjoeng Iboekota, Tjentinikah Kamoe, Siti

Noeringtjas, Ampoetjino Dikotjok Panas, Pahami Wajang Soeketkoe, Cakil Poeasa Moetih

Kopi Dingin
Sengkoeni Lali Djiwo, Doerna Moenggah Kadji, Poenthadewa Petjitjilan, Sarpakenaka

Ting-Ting, Ardjoena Dadi Romo, Ampoetjino Dikotjok Dingin, Lesmana Matjho, Anoman Binan,

Rahwana Dikremasi

Es Grim
Manoenggaling Kawoela Goesti, Bima TJoekoer Koemis, Bawono Moenggah Ondho

Soesoe Kotjok
Koembakarna Diet Ketat, Srikandi Toembas Bedil, Gatoetkatja Ngoendjoek Avtoer, Wisanggeni

Toembas AC, Doerga Anggoen Witjaksono

Teh Panas
R.A. Kosasih Tjerdas, Kho Ping Hoo Lihai, Gan K.L. Tjiamik, Mangoen Widjaja Loear Biasa,

Kajam Sang Prijaji, H.B. Jassin nan Menarik

Teh Dingin
Togamas Dahsjat Moerahnja, Djendelo Tanah Airkoe

Sari Boeah
Akibat Pergaoelan Bebas, Goena-Goena Istri Moeda, Randjang Jang Ternoda

Joghourt
Gadjahmada Sang Pelaoet, Kamandanoe-Kamandaka, Raden Widjaja Hantam Mongol

Rekroetmen; Poedjaan djendelo

April 13th, 2006 by djendelo

Rekroeitmen

“ POEDJAAN DJENDELO”

RINDOE KAMOE2

      Bahwasanja goeboeg kami merindoekan toean2 joega poean2 jang mendambakan bergaboeng menjadi famili “djendelo koffie and thee.” Kami tiada berdjandji jang moeloek, tjoekoep djaminan bahwa toean2 djoega poean2 nantinja akan ditjintai dan dipoedja oleh kami dan tamoe2 kami jang tampan roepawan djoega djelita sebagai empoenja peratjik minoeman pemoeas dahaga. Djika toean2 dan poean2 berkehendak, tiada salah oentoek mentjoba peroentoengan dalam atjara kami :” Poedjaan Djendelo.”

Adapoen sjarat2nja :

Moeda dalam djiwa dan oesia ( 20-26th )
Mendjoendjoeng tinggi semangat merah poetih
Mental tegoeh, koekoeh dan lapis badja
Berkeahlian khoesoes dan poenja njali oentok ditampilkan dalam aoedisi di depan djoeri2 jang meroepakan legenda tiada atjhir
Tjoekoep antar soerat lamaran—tiada perloe photo, tjoekoep nama dan identitas diri— ke Djendelo koffie and thee ( lt.2 toko boekoe Toga Mas, jl. Gedjajan no. 5 ). Paling lambat tanggal 18 April 2006 poekoel 23.00 wib.

Informasi selandjoetnja menjoesoel.

ATMOSFER

September 15th, 2005 by djendelo

 Kami ingin menciptakan ruang
abu-abu yang sesungguhnya, dimana ruang publik dan privat mampu menyatu. Ruang
yang selama ini hilang dalam kultur jogja, ruang tanpa batas, dimana sapaan, “
Dari mana…?” atau “ Sedang apa…..?” bukan dinilai sebagai pengusikan
kehidupan pribadi, tetapi secara persepsional menjadi sapaan umum akan sebuah
perhatian dan kehangatan dalam suasana kekerabatan.

 

Kekerabatan tersebut tak lain kata
adalah sebuah komunitas terbentuk, komunitas yang akan hidup terus meskipun
tanpa ada ikatan darah, komunitas yang saling memiliki dan memperhatikan,
komunitas yang akan menciptakan sebuah brand
image
secara intra-personal
maupun extra-personal—tak lekang
waktu.

 

Penciptaan sebuah brand image !

 

Brand image inilah
yang sejujurnya menjadi kunci utama coffee
shop
kami dalam menjaring pelanggan, romantisme sentimentil Jogja sebagai

kota


pendidikan, budaya dan wisata. Suasana Jogja masa lalu inilah yang diharapkan
terwujud dalam konsep sinergi coffee shop
dan toko buku Togamas dimana membaca sembari menyeruput wedang jahe dan olah
seni terapresiasi bisa dianggap sebagai sekeping surga di bumi.

 

Bisa jadi itu masa lalu, dimana akses
terhadap media informasi sangatlah sedikit, televisi, internet dan tempat
hiburan belumlah ada atau memadai. Mungkin saja kami bermimpi, tapi ini bukan
mimpi tanpa perwujudan, sebab kami telah memulainya dengan memilih segmen
kepada mereka yang mencintai buku sebagai sebuah dunia tersendiri dan mencari
suasana yang mendukung dalam rasa untuk memasukinya, tanpa menutup diri bagi
mereka yang memilih buku sebagai sarana untuk segera lulus dari bangku
pendidikan.

 

Disini, kami memiliki target khusus,
yaitu : seniman dan mahasiswa, dimana senimanlah yang melahirkan buku dan
membantu mahasiswa/pelajar–sebagai pasar buku–  untuk tidak hanya memahami, tetapi juga
merasakan esensi yang ingin disampaikan sang penulis, diharapkan dalam jangka
waktu delapan bulan, embrio atas sebuah komunitas pembelajar dan loyal pun akan
mulai terbentuk.

 

Mengenai positioning, itu hanyalah
soal waktu dimana sebuah desas-desus dan loyalitas tentu saja akan menciptakan brand image yang menguntungkan dalam
jangka menengah hingga jangka panjang bagi toko buku Togamas sendiri, pun juga kami
sebagai pengelola coffee shop. Dimana–kami
yakin–mereka akan menjadi konsumen loyal, yang meskipun sudah tidak tinggal di
Jogja, tetapi tetap memiliki kenangan positif terhadap Togamas. Maka, kami
tidak akan hanya berpangku tangan, kami akan melakukan promosi melalui mutu,
harga dan suasana nan berkesinambungan dalam waktu dan setiap kegiatan yang
kami lakukan.